Hey Bandung – Hai Bandung

25 september
Hari Jadi Kota Bandung. De verjaardag van de stad Bandung.
Versi Bahasa Indonesia mengikuti di bawah gambar. Bahasa Indonesia versie onder de afbeelding.

Hey Bandung

Wat is er toch
met jou gebeurd?

Ooit was je
het Parijs van Java.

Nu een afgetrapte stad.

Een wonderlijke verzameling
van parels
en verloren erfgoed,
wachtend
op een nieuwe bestemming
of de slopershamer.

Vergane glorie?

Naarstig zoek ik
naar wat verdwenen is.

Mijmerend slenter ik
langs Villa Isola,
Savoy Homann,
Jalan Braga
en Gedung Sate.

Alsof het oude Bandung
zich nog ergens
voor mij verborgen houdt.

Hey Bandung

Luister vooral niet naar mij.

Misschien zoek ik jou
te veel
in wat je ooit was.

Ook een stad
moet zich losmaken
van het verhaal
dat anderen over haar schreven.

Ook een land.

Ook wij.

Dekoloniseren
gaat niet
zonder groeipijn.

Veel tastbare herinneringen
zijn uitgewist.

Maar verdwenen
is niet hetzelfde
als vergeten.

In coffeeshops
en achter in taxi’s
ontmoet ik jonge Bandungers.

Studenten.
Barista’s.
Taxichauffeurs.

Als ik vertel
dat ik uit Nederland kom,
glimlachen ze.

Zij dragen het verleden
anders dan ik.

geven zij het verleden
een nieuwe plek.

Zonder terug
te verlangen,

Een gevel.
Een lettertype.
Een oude stoel.
De schaduw van art deco.

Geen verlangen
naar wat was.

Wel de vrijheid
om zelf te bepalen
wat daarvan blijft.

Hallo Bandung

Hier ben ik weer.

Niet om je terug te vinden,

maar om je te ontmoeten
zoals je nu bent.

Het creatieve,
culturele
en intellectuele hart
van Java.

Een coole stad
met een jonge hartslag.

“Selamat datang, Pak.”

Voor Sandra, Marco, Jules-Scott en Daniël & Helen.

Uit: Ik was daar nog even
Een bundel mijmermomenten – Patrick Wouters

Versi Bahasa Indonesia mengikuti di bawah gambar.

Versi Bahasa Indonesia

Hai Bandung

Apa yang sebenarnya
terjadi padamu?

Dahulu kau
Paris van Java.

Kini kota yang lusuh.

Perpaduan yang ganjil
antara mutiara
dan warisan yang hilang,

menanti
takdir baru
atau palu penghancur.

Kejayaan yang telah pudar?

Dengan resah kucari
apa yang telah lenyap.

Aku melangkah tanpa tergesa,
tenggelam dalam renungan,

melewati Villa Isola,
Savoy Homann,
Jalan Braga
dan Gedung Sate.

Seolah Bandung yang dulu
masih bersembunyi
di suatu tempat dariku.

Hai Bandung

Jangan terlalu hiraukan aku.

Mungkin aku terlalu sibuk
mencarimu
dalam dirimu yang dahulu.

Sebuah kota pun
harus melepaskan diri
dari kisah
yang ditulis orang lain tentangnya.

Sebuah negeri pun.

Kita pun.

Dekolonisasi
tak pernah berlangsung
tanpa rasa sakit
dalam proses bertumbuh.

Banyak jejak yang kasatmata
telah dihapus.

Namun yang lenyap
belum tentu
terlupakan.

Di kedai-kedai kopi
dan dari kursi belakang taksi,

aku bertemu
orang-orang muda Bandung.

Mahasiswa.
Barista.
Sopir taksi.

Ketika kukatakan
aku datang dari Belanda,

mereka tersenyum.

Mereka membawa masa lalu
dengan cara
yang berbeda dariku.

Tanpa ingin
kembali ke masa itu,

mereka memberi masa lalu
ruang yang baru.

Sebuah fasad.
Rupa sebuah huruf.
Sebuah kursi tua.
Bayang-bayang art deco.

Bukan kerinduan
pada masa lalu.

Melainkan kebebasan
untuk menentukan sendiri
apa darinya
yang tetap tinggal.

Halo Bandung

Aku kembali.

Bukan untuk menemukanmu
seperti dahulu,

melainkan untuk menemuimu
sebagaimana dirimu sekarang.

Jantung kreatif,
budaya
dan intelektual
Pulau Jawa.

Kota yang keren
dengan denyut yang muda.

“Selamat datang, Pak.”

Dari: Saya ada di sana sebentar
Momen merenung – Patrick Wouters


Ontdek meer van Patrick Wouters

Abonneer je om de nieuwste berichten naar je e-mail te laten verzenden.

Plaats een reactie